Kain Kasa yang ke Duabelas
BOBO 01/XXXIVKamis, 13 April 2006
Rp7000,00
:: ARTIKEL MENARIK::
* Aston Taminsyah - Juara catur international
* Chalkzone- Kisah Kapur Ajaib Rudy Tabootie
* Potret Negeriku:Taman Mimpi di Jakarta
* Bunga Terompet: Indah tapi beracun
* Kenapa ulang tahun harus meniup lilin?
:: CERITA PILIHAN ::
Kain Kasa yang ke Duabelas
Oleh Kemala P
Jam gereja yang terletak di sebelah rumah sakit berdentang. Ira melihat arlojinya. Pukul sembilan. Dia mendesah. Meletakkan penanya, lalu berdiri.
Iin yang duduk di sebelahnya, menoleh. Menatap wajah temannya yang kelihatan tegang dan agak pucat.
“Pukul berapa operasinya?” tanyanya.
“Pukul sepuluh,” sahut Ira.
“Masih satu jam lagi,” gumam Iin. “Tenang saja.”
“Bagaimana aku bisa tenang,” keluh Ira. “Dokter yang akan kudampingi nanti, dokter Budi. Kamu tahu sendiri bagaimana dia.”
Iin mengangguk tanda mengerti. Dokter Budi, ahli bedah di rumah sakit itu terkenal sebagai dokter yang paling sulit didekati. Umurnya sudah tua dan galak bukan main.
“Kalau begitu banyak-banyaklah berdoa,” saran Iin. Matanya menatap kepergiaan temannya itu dengan rasa iba. Bagaimana tidak? Pagi ini adalah hari penentuan bagi Ira, apakah ia bisa bekerja sebagai perawat di rumah sakit itu. Ira sebenarnya masih calon perawat. Dan hari inilah ujian terakhirnya.
“Semoga kau berhasil!” seru Iin sebelum Ira mencapai pintu.
Ira mengangguk. Ia melangkah perlahan menuju sal. Pasien yang akan dioperasi masih di ruangan itu. Dia harus memeriksa keadaan pasien itu sebelum pasien itu dibawa ke ruang operasi.
“Sudah siap?” tegur temannya yang sedang memeriksa pasien lain di ruangan itu.
“Ya,” sahut Ira mengangguk. Kemudian dia mengeluh, ”Cuma menunggu dokter.”
“Semoga sukses.”
“Terima kasih,” sahut Ira.
Ira mengenakan pakaian khusus untuk operasi. Diikatnya rambutnya sebelum dibungkus dengan topi putih. Kemudian dia mengenakan pakaian khusus operasi pada pasiennya. Sekali lagi dia memeriksa peralatan operasi dan transfusi darah. Kemudian menulis keadaan pasien di kartu laporan.
Wajahnya berubah tegang ketika pintu terbuka. Dan dokter Budi melangkah masuk. Dengan tak acuh, dokter menegur Ira.
“Sudah siap, Suster?”
“Sudah, Dok,” sahut Ira. Dia menyerahkan kartu laporan kepada dokter itu. Dokter memeriksa kartu laporan. Lalu memeriksa pasiennya, dan mengangguk puas.
Operasi pun dimulai. Ira mendampingi dokter itu dengan tegang. Tangannya sigap menyerahkan peralatan yang diperlukan dokter. Mereka bekerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dokter bekerja tanpa terburu-buru. Dan operasi berhasil dengan sukses. Dokter siap untuk menjahit sayatan operasi, tetapi tiba-tiba Ira mengeluarkan suara.
“Tunggu, Dok!”
Alis mata dokter Budi terangkat sedikit. Menandakan dokter ahli bedah itu tidak senang diganggu ketika sedang bekerja.
“Ada apa?” katanya dengan suara kesal.
“Kain kasanya masih tertingggal satu di perut pasien,” sahut Ira.
“Aku sudah mengeluarkan semuanya,” kata dokter Budi. Dia menunjuk tumpukan kain kasa yang berlumuran darah di dalam baskom. ”Aku bukan dokter yang baru kemarin bertugas. Aku tidak akan seceroboh itu,” kata dokter Budi lagi dengan suara berang.
“Tapi tadi dokter memakai dua belas kain kasa. Sedang yang ada di baskon ini baru sebelas,” sahut Ira.
“Mungkin kau salah hitung,” sahut dokter Budi. Dia kelihatan akan melanjutkan pekerjaannya menjahit sayatan operasi di perut pasien. Tetapi dengan mata berapi-api, Ira berkata, “Dokter tidak boleh melakukan itu! Pikirkan nyawa pasien apabila kain kasa itu tertinggal di dalam perutnya!” katanya tegas.
Dokter Budi tersenyum. Dia mengangkat kakinya, dan menunjuk kain kasa yang masih bersih di bawah pijakannya.
“Ini kain kasa yang kedua belas. Tadi sengaja kujatuhkan ke lantai untuk menguji ketelitianmu. Kau lulus ujian!” katanya.
“Apa?” Ira tertegun sejenak, wajahnya memerah malu. Tadi dia sudah membentak dokter Budi. Dokter senior yang terkenal galak itu. Tetapi kemudian dia tersenyum lega. Katanya dengan suara setengah berbisik, “Terima kasih, Dok.”
“Kau memang pantas mendapatkannya. Pekerjaanmu bagus. Kau juga sangat teliti. Mulai sekarang kau akan mendampingiku setiap kali aku mengoperasi pasien,” kata dokter Budi ramah.
Hati Ira bersorak-sorak gembira. Ingin rasanya dia memeluk dokter Budi yang seusia ayahnya itu. Tetapi yang keluar dari bibirnya hanya, “Baik, Dok.”

0 Comments:
Post a Comment
<< Home